minhoyuri

Mutiara Syaflina's Blog

senyuman minho

Senyuman Minho


“akhirnya kau datang, sudah 3 jam aku menunggumu”.
Wajahnya yang dari tadi lesu, mulai bercahaya kembali. Senyumannya segera mengembang.
Mata indahnya menatapku lembut. Bunga mawar ditangannya sudah mulai layu.
Tapi, ketulusan dari hatinya belum tidak akan pernah layu.
Begitulah, setiap hari sikapnya padaku. Minho, seorang lelaki tampan yang punya senyuman indah. Yang selalu memberiku semangat dalam menjalani kehidupanku yang akhir – akhir ini sangat pahit.
Dan sepertinya akan selalu pahit. Tapi, bagiku ini tak sebanding dengan kepahitan hidup yang dijalani oleh Minho. yatim piatu, amma dan appanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat saat akan kembali dari China. Mempunyai gangguan pada otaknya, yang menyebabkan ia tak bisa hidup normal seperti ku.
Dua tahun ini ia tinggal dengan pamannya. Tetanggaku sekarang.
Setiap pagi dia selalu menungguku diseberang jendela kamarku.
Tersenyum dan membuatku tertawa bahagia.
“mianhe, tadi aku harus menyiapkan untuk persentasi besok”
Jawabku sambil melangkahkan kakiku menuju trotoar jalan yang biasa ku lalui saat pulang sekolah.
“hum hihihihi..”
Tawa kecilnya membuatku penasaran dan menatapnya yang berjalan dibelakangku.
“humm…? mworago?”
Ucapku sambil menyipitkan mataku ke arahnya. Ia tak menjawab, hanya menunduk dan tersenyum kembali. Mengulurkan setangkai bunga mawar merah ke arah depan wajahku.
Dengan senyuman di bibirku, aku mengambilnya dan kembali melangkah di trotoar.
Ku dengar tawa kecilnya mengiringi langkah – langkahku.
“gomawo…”. ucapku lembut, memndang sejenak ke arahnya.
Hanya anggukan bahagia yang kulihat darinya.
Mungkin sudah ratusan kali aku mengucapkan terima kasih padanya.
Meskipun tak sebanding dengan ribuan kebahagiaan yang ia berikan padaku selama dua tahun ini.
Semenjak ammaku pergi meninggalkan aku dan appa. Meskipun dia bukan ammaku, tapi setidaknya kehadiaran minho seperti obat bagiku.
“makanlah yang banyak. Meski masakan appa tak seenak buatan amma mu.
Tetap saja kau harus makan.” Ucap appa saat aku telat menuju meja makan untuk makan malam.
Meskipun tak bisa bersikap lembut, walaupun sedikit padaku. Tapi aku selalu tahu, bahwa appa sangat menyayangiku. Walaupun amma tak tahan dengan sikapnya yang kasar, tapi aku bisa tahan dan akan selalu tahan.
“aku akan makan banyak malam ini. Lagian aku tak suka makanan yang enak.
Makanan seperti sekarang, membuatku merasa lebih kenyang.”
Aku mengambil sebuah piring dan melahap makanan di depanku.
Sesekali aku bercerita lucu, agar appa tertawa. Meskipun ia tak pernah tertawa dengan leluconku. Tapi, setidaknya aku merasa lebih nyaman begini. Aku mau menutupi kesedihanku. Ini lebih baik.
Pagi ini aku melihat keluar rumah, kelirik sekitar tak ada tanda tanda keberadaan minho.
Bibirku mulai manyun dan tubuhku bersandar lesu ke pagar tembok rumahku.
“tap….tap….tap…”
Suara langkah sepatu yang sangat cepat, datang dari arah sampingku.
Napasnya terengah-engah dan ia memegangi dadanya. Aku yakin, itu sangat sesak.
Namun, senyumannya tetap sama. “Yuri………” panggilnya saat ia merunduk memegangi lututnya yang terlihat lelah.
“minho….. kwencana?” aku menatapnya cemas.
Dia terlihat sangat buru-buru. Dia mulai menegakkan tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya dan masih sempat tertawa.
“hati-hati ya…” ia melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaian tangan bocah manis itu.
“aku tunggu di taman, nanti saat makan siang”
Ucapnya sedikit berteriak padaku. Aku mendengarnya dan langsung mengangguk ke arahnya.
Ia kembali tersenyum, aku yakin matanya tak berkedip sedikitpun hingga aku hilang dari penglihatannnya.
Aku berjalan terus menyusuri jalanan pagi itu. Sedikit bising, suara klarkson berbunyi tanpa aturan.
Sipenjual koran berkeliling berteriak, membawa dagangannya.
“korupsi…!!! kecelakaan mobil…!!! berita selebritas!!”
Teriakan yang selalu diulang ulang hingga dagangannya laku.
Tawa para murid sekolah menengah yang berlari berkejar-kejaran hingga gerbang sekolahnya.
Pukul tujuh lewat lima menit. Aku sampai di depan gerbang sekolahku.
Tanpa ekspresi aku memasuki kawasan sekolahku. Terlalu cuek dengan keadaan sekitar.
Aku tak memperhatikan panggilan seseorang gadis di sudut lapangan sekolah.
“yuri !!! ya! Kwon yuri!!”
Sebuah tepukan dibahuku, akhirnya membuatku terbangun dari lamunanku yang tak jelas.
Aku tersenyum seolah telah mengerti dengan maksud dari gadis itu.
Aku merangkul bahunya dan melangkah bersama menuju kelas.

Aku menyandang tas berwarna hitam bermotif bulat keluar kelas. Lambaikan tangan ku rahkan kepada beberapa orang teman yang kulihat siang itu. Suara tapak sepatuku dan ratusan murid lainnya memecah keheningan sekolah siang itu juga.
“kau ada waktu sore ini?”
Langkahku terhenti oleh suara gadis yang tadi pagi beriringan ke kelas denganku.
“mollayo”
Jawabku singkat.
Tapi, dia terus memberiku bujukan agar aku menyetujui ajakannya.
Namun, kau teringat akan ajakan minho tadi pagi. Mungkin dia sudah menungguku di taman siang ini. Segera aku menolak ajakannya.
Kembali aku melangkahkan kakiku, sekarang aku telah sampai di gerbang sekolahku.
Langkahku kembali terhenti, sebuah mobil sedan hitam berhenti didepanku.
Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu belakang. Berdiri lurus menatapku.
Wanita itu menangis. Sama sepertiku, yang mulai mebirakan air mataku mengalir tetes demi tetes.
Wanita itu mengembangkan tangannya, seolah aku aku berlari memeluknya.
Tapi, aku tak melakukan itu. Berjalan pelan mendekatinya. Hanya itu yang kulakukan.
Beberapa langkah, dia berlari memelukku. Tubuhku hanya berdiri tegang, tak jelas ddalam pelukan wanita itu. Ia menatap ku sejenak dan kembali menangis memelukku.
“anakku… neage noumu bogosshippo”. Ucapnya padaku. Entah kenapa aku merasa itu tulus.
Ia mengulangi perkataan itu beberapa kali. Hanya saja aku tetap diam terpaku, tak percaya aku bertemu dengan ammaku lagi. Aku tak tau harus melakukan apa. Perasaanku bercampur aduk, saat menatap wajahnya yang berlinang air mata.
“ikut lah denganku, ke Tokyo. Kau akan lebih baik disana daripada disini bersama appamu polisi yang sibuk itu”.
Amma membuka pembicaraan kami di sebuah kedai kopi dekat sekolahku.
“di tokyo, semua lebih baik dari pada disini”.
Ucapnya menyakinku lagi.
“shiro”. Ucapku dingin, kulihat ekspresi wajahnya sedikit berubah.
Dia kembali membujukku, beberapa kali. Tapi, jawabanku tetap sama.
Aku yakin dari raut wajahnya, menunjukkan kekecewaan. Tapi, dia tak berhenti begitu saja.
Ribuan bujuk rayu ia lontarkan padaku.
Hingga kesabaran amma telah habis dengan nada tinggi ia mulai bicara.
“wae?? waeyo?? Kenapa kau tak ingin ikut dengan ammamu.
Aku tak mau berpisah lagi denganmu”.
“aku mau disini, hanya itu alasanku”. Aku mengambil tasku dan menyandangnya.
Aku berdiri dari kursi dan membalikkan tubuhku.
“kalau amma tak mau berpisah denganku, pulanglah. Appa tak pernah mengunci pintu untukmu”.
Itu kata-kata terakhir yang aku ucapkan, sebelum melangkahkan kaki menuju jalan senja itu meninggalkan wajah kecewa dan air mata ammaku.
Malam itu, aku hanya merenung di kamarku. Sejenak aku menatap ke seberang jendela kamarku.
Tak terlihat lampu menerangi kamar minho. aku menunggu beberapa menit.
Hingga aku ingat sesuatu. Ia menungguku ditaman tadi siang.
Mungkin ia masih disana, pikirku awalnya. Hingga ku keadaan cuaca sejak sore tadi hingga sekarang hujan lebat.
Aku rasa ia telah meninggalkan taman saat hujan datang.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku terlelap di dalam dinginnya malam dan suara hujan lebat malam itu.

Sudah satu minggu, aku tak melihat minho sejak pagi hari itu. Setiap hari, aku selalu menunggu kedatangannya. Aku benar – benar merindukan sahabatku itu. Rumahnya juga terlihat kosong. onew ajusshi juga tak pernah lagi lewat di depan rumahku. Sekarang aku menyesal, saat melupakan janjinya waktu ditaman. Andai saja aku datang, mungkin pagi itu bukanlah hari terakhir aku melihat sahabatku itu.
Suara klarkson mobil terdengar olehku. Saat aku duduk – duduk di balkon rumahku. Aku melirik mobil itu. saat aku tau, siapa yang keluar dari mobil itu. Akupun berlari riang menuju rumah tetanggaku itu. ingin rasanya aku bermain dengan Mario lagi. Sudah lama ia tak memberiku mawar lagi.
Kehadiranku, terasa asing saat aku menyapa paman minho, onew ajusshi yang akan masuk rumahnya.
Wajahnya lesu, dan seolah tak ingin menyampaikan suatu kepahitan padaku.
minho telah pergi. Jauh sekali, dan tidak akan pernah kembali. Kematian membawanya ke dunia lain. Meninggalkanku.
Tetesan air mata onew ajusshi semakin menyakinkanku, minho telah meninggal.
Aku dan air mataku, terduduk kaku di kursi beranda sambil mendengar cerita Paman Mario.
Dan semua salahku. Aku merasa bersalah, sangat bersalah. Kepala minho terkena patahan ranting pohon taman, saat hujan deras. Dia terus menungguku hingga malam. Tubuhnya kedingin karena basahnya hujan. Terjadi pendarahan hebat di kepalanya.
Dan minho tak tertolong lagi.
Cerita ajusshi berhenti sejenak. Dan mulai melanjutkan lagi.
“minho telah tenang di samping appa dan ammanya sekarang”.
Aku berjalan menyusuri jalanan kota. Aku sudah tak punya amma, sekarang aku kehilangan minho sahabatku. Ah,, aku telah mencintainya. Minho saraghaeyo.
Aku mulai duduk di sebuah bangku taman.
Aku rindu, aku merindukan senyuman minho.
Neage noumu bogosshippo minho….

the end…

Single Post Navigation

6 thoughts on “senyuman minho

  1. Wuahhh…
    Sedih bgt, .
    Yuri sih kok gk datangin aja walaupun uda malam?
    Ksian bgt minho oppa.

  2. ,,,,,sedihhhh,,,,,,

  3. Bagus ….
    Merinding bacanya !!
    MinYul Forever lah pokoknya !!!

  4. Yah…… Sad Ending lagi!
    Tapi bagus kok eonn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: