minhoyuri

Mutiara Syaflina's Blog

Reason of Life

Reason of Life

One Shoot

PG-15

Image

Cast

Kwon Yuri

Choi Minho (Dokter Choi)

Song Joong Ki

                                When I am dancing, I am alive

Gadis itu, melambaikan tangannya dengan indah. Bukan untuk menyapa atau menandakan perpisahan. Tapi ini adalah sebuah tarian.

Ia dengan lincah menggerakkan kakinya tanpa ragu seolah ia akan terbang dengan sayap khayalnya. Ia berputar dan merentangkan tangan dengan anggun, seolah panggung itu adalah surganya. Tubuhnya menari. Bukan, jiwanya lah yang menari.

Kwon Yuri pun memberikan salam untuk menutup penampilannya. Sama seperti biasa, dia membuat semua penonton malam itu terkagum-kagum melihat aksi tariannya yang tanpa cela. Memang tak heran jika banyak orang yang mengatakan tarian adalah hidupnya. Dan ia mengakui, hal itu memang benar adanya.

Kwon Yuri terlihat berdiri di salah satu ujung zebra cross. Sedikit hapusan make up, dan gaun yang dilapisi jacket, serta sebuah tropi cantik yang bening terbuat dari kaca terlihat di genggamannya. Senyumnya masih sama, tak sedikitpun berubah dari senyumannya di panggung tadi. Hari ini untuk kesekian kalinya ia menang dalam kontes bergengsi di negeri ginseng tersebut.

“Kwon Yuri, aku di sini!” teriak seorang lelaki dari seberang jalan. Lelaki tanpan, berkulit putih mulus, serta memiliki tatapan manis ini melambaikan tangannya pada Yuri.

“Joong Ki oppa, kau telat lagi kali ini” balas Yuri sedikit kesal diiringi tawa kecil antara mereka yang terpisah oleh lampu merah dan zebra cross ini. Senyum manis dan tatapan hangat terlihat jelas dari wajah dua hati yang tengah kasmaran ini.

Yuri pun mulai segera melangkah menyusuri jalan bergaris layaknya zebra tersebut. Tatapannya lurus ke depan, lurus pada tujuannya. Lelaki itu, Song Joong Ki. Namun, dari kejauhan sebuah mobil melaju sangat kencang tak terkendali. Dan tak seorang pun pejalan kaki di zebra cross yang menyadarinya. Beberapa saat kemudian, saat Yuri hampir sampai di bibir jalan ia tersadar akan cahaya lampu yan menyilaukan pandangannya. Ia kehilangan fokus, dan banyak suara dari sekelilingnya terdengar samar. “awas…!” begitulah kira-kira.

Bruuuk……….

Sebuah suara hamtaman yang keras terdengar. Tropi kaca kemenangan Yuri pun pecah terhempas badan jalan. Pecahan kaca itu pun berserakan di jalan. Tubuh Yuri pun tergeletak lemah di depan mobil tersebut. Pandangannya mulai kabur, dan terus kabur hingga ia tak bisa melihat apa-apa. Ia mulai kehilangan kesadarannya. Matanya tertutup perlahan.

“Kwon Yuri… sadar… sadar…. tolong…” teriak Joong Ki memeluk gadis itu dan berusaha sekuat mungkin agar gadis dipelukannya itu bisa bertahan.

Tiga hari kemudian

Sinar matahari mulai menyisip di cela-cela tirai jendela. Sinar itu pun mengenai sepasang mata yang telah tiga hari tertutup. Dan mata itu pun perlahan terbuka kembali. Yuri terbangun untuk pertama kalinya dari tidur panjangnya.

“aku, dimana?” itulah kalimat pertama yang diucapkan gadis yang terbaring lemah dengan lilitan selang oksigen dan jarum infus di tangannya.

“rumah sakit. Kau mengalami kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu. Kau tertabrak sebuah mobil yang dikemudikan oleh supir yang sedang mabuk” jelas seorang dengan jas putih yang sedari tadi bedara di ruangan itu mengecek keadaan Yuri. Dokter berperawakan tinggi dengan mata besarnya yang indah itu mulai sedikit demi sedikit memberitahu kondisi Yuri saat ini.

“apa kau merasa baikan?” tanya Dokter Choi.

“ ya, sedikit” jawab Yuri.

“apa kau bisa memberi tahu informasi tentang walimu? Sudah tiga hari sejak kau disini. Namun kami tidak bisa menghubungi walimu” ungkap Dokter Choi.

“benarkah? Hm… Joong Ki. Apa ada yang namanya Song Joong Ki datang ke sini?” ucap Yuri seketika ia ingat akan kehadiaran Joong Ki di saat-saat kecelakaan itu terjadi.

“ya, benar. Tuan Song Joong Ki yang mengantarmu kesini. Setelah menyetujui surat persetujuan operasi dan membayar semua biaya rumah sakit, dia tidak pernah kembali lagi” ungkap Dokter Choi.

“ Operasi?” tanya Yuri bingung. Ia tertegun sejenak, dan tak lama setelah itu ia menyadari ada yang terasa janggal.

“Apa ini? Kenapa aku merasa seperti………” tiba-tiba kalimatnya terhenti sejenak dan ia terlihat ketakutan sembari sedikit-demi sedikit membuka selimut yang menyelimuti bagian bawah tubuhnya.

“kenapa kakiku hanya ada sebelah? Kenapa? Kenapa???” isaknya. Ia akhirnya menyadari bahwa salah satu kakinya diamputasi. Akibat kecelakaan itu, salah satu kakinya terluka parah dan mengakibatkan kaki tersebut harus diamputasi. Yuri menangis meraung tak henti-hentinya. Membuat pasien lain ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi pada Yuri.

“ siapa? Siapa yang melakukan semua ini? Siapa yang membuang kakiku? Siapa???” teriaknya di sela-sela tangisnya. Beberapa perawat berusaha menenangkan Yuri. Namun tetap saja, ini terlalu berat baginya.

“aku” jawab Dokter Choi dengan yakin.

Yuri terdiam sejenak, ia menatap Dokter Choi dengan penuh ketidakpercayaan dan kebencian. “kau, beraninya kau melakukan ini padaku! Kau tau betapa berharganya kaki ini bagiku? Kaki ini adalah hidupku. Hanya dengan kaki ini aku bisa terus menari. Aku tak bisa hidup tanpa menari. Itu adalah hidupku. Kau….. benar-benar. Bagaimana kau bisa menyebut dirimu seorang dokter jika kau membunuh hidup dan masa depan pasienmu? Dokter macam apa kau ini?” Yuri terus menangis tak henti.

“kembalikan kakiku, kembalikan kakiku, aku ingin menari aku ingin menari” Teriak Yuri berulang. Ia tak bisa menarima keadaan, ia tak bisa menari lagi. Ia hanya punya satu kaki.

Beberapa hari kemudian,

“Dokter Choi, pasien tabrakan mobil Kwon Yuri tidak ada di ruangannya” lapor salah seorang perawat pada Dokter Choi. Dokter itu dan beberapa perawat segera dengan sigap berlari ke ruangan Yuri. Sesampainya disana, hanya jarum infus dan tempat tidur kosong yang mereka dapati.

Sesaat kemudian, terdengar teriakan dari luar gedung.

“Dokter Choi, pasien Kwon Yuri sekarang berada di atap gedung rumah sakit, tampaknya ia berusaha bunuh diri” lapor salah seorang perawat yang datang tiba-tiba.

Dokter Choi melihat ke arah luar jendela, terlihat banyak orang di luar sedang berteriak dan kecemasan sambil melihat ke arah atap. Ia segera berlari menuju atap. Dengan langkah secepat mungkin, ia menaiki tangga darurat hingga akhirnya mencapai atap gedung. Didapatinya Yuri sedang merangkak sebisanya dan berusaha menjatuhkan diri dari gedung enam lantai tersebut.

“ Kwon Yuri, kumohon hentikan” ucap Dokter Choi

Yuri membalikkan badannya, dan kaget mendapati Dokter Choi berada di atap.

“berhenti? Apa aku salah dengar? Apa kau tidak tau? Aku memang telah berhenti. Karena aku telah mati. Tapi aku mati ketika jantungku masih berdetak. Aku yakin kau lebih tahu daripada aku. Jika aku jatuh ke bawah, maka jantungku akan berhenti berdetak juga kan?. Maka aku akan tenang, karena semuanya benar-benar mati. Semuanya akan benar-benar berhenti” yuri mulai bicara dengan isak tangisnya.

“ banyak orang dibelahan dunia ini, dalam kondisi yang sama denganmu. Bahkan lebih parah. Aku telah menemui banyak orang yang kehilangan kedua kakinya, tangannya, bahkan kedua matanya. Dan mereka masih bisa hidup. Mereka hidup untuk hal lainnya yang masih mereka miliki. Mereka hidup untuk mensyukuri apa yang masih mereka punya. dan berusaha lari dari keterpurukan. Mereka bisa” ucap Dokter Choi.

“ tapi aku tak bisa, aku tak bisa hidup tanpa menari. Menari adalah hidupku” teriak Yuri lagi

“banyak penyanyi yang kehilangan suaranya, tapi masih bisa tertawa dengan orang yang mereka cintai. Banyak pelukis yang kehilangan tangannya tapi bisa bermimpi bersama orang yang disayanginya. Banyak atlet lari yang masih bisa bertepuk tangan untuk menyemangati orang yang dikasihinya meski mereka kehilangan kakinya” ucap Dokter Choi sambil berjalan mendekati Yuri.

“bagaimana denganku? Tak ada yang mencintai, menyayanyi, bahkan mengasihiku. Aku terlahir yatim piatu yang hidup di panti asuhan, dan hidup sendiri sebagai penari diusiaku yang masih belia. Dan sekarang Joong Ki, satu-satunya orang aku kira mencintaiku dengan sepenuh hati. Ternyata dia pergi, setelah tau aku kehilangan satu kakiku” ucap Yuri lirih. Ia kembali menatap Dkter Choi yang telah berada di sampingnya. Dokter Choi terdiam sesaat mendengar curahan hati gadis itu.

“aku sudah tidak punya alasan untuk hidup. Benar-benar tidak punya” ucap Yuri yang sudah mulai agak tenang.

“kalau begitu, temukan alasan lain” ucap Dokter Choi dengan tatapan yang tulus. Yuri tertegun sejenak dan berkata “alasan lain? Apkah ada?” tanyanya.

“untuk sekarang, alasanmu untuk hidup adalah karena aku memintamu” saran Dokter Choi. Yuri tersenyum kecil dan menatap Dokter Choi, “bagaimana dengan alasanku untuk besok?” tanyanya lagi.

“besok, alasanmu untuk hidup adalah untuk mencari alasan hidup itu sendiri” jawab Dokter Choi. Yuri menghela napas sejenak, memikirkan perkataan Dokter itu. Awalnya memang sulit, tapi setelah beberapa saat ia mulai bisa memahaminya. Ia pun mulai terpikir suatu alasan,

“aku menemukannya satu” ucap Yuri tiba=tiba. “Benarkah? Apa alasanmu?” penasaran Dokter Choi. “alasanku untuk hidup adalah untuk bersyukur. Bersyukur atas apa yang masih aku punya saat ini” ungkap Yuri. Dokter Choi tersenyum manis dan menatap gadis itu lega. Akhirnya dia menemukan alasannya untuk hidup hari ini, dan semiga ia dapat menemukan hal yang lebih baik untuk hari-hari esoknya.

 

Syukuri apa yang masih kau miliki, dan jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi…

(author Quote)

The End

Single Post Navigation

6 thoughts on “Reason of Life

  1. part selanjutnyaaa.. masa cuma bersyukurr .____.

  2. Aku masih penasaran, knapa song jong ki pergi gitu aja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: